BULLYING VERBAL

BULLYING VERBAL



Bullying verbal adalah bentuk perundungan menggunakan kata-kata, sebutan, atau panggilan yang menghina. Hal ini bisa menyebabkan anak depresi, merasa gelisah, pola tidur berubah, dan harga diri rendah. 

Fenomena bullying verbal kerap terjadi di kalangan anak-anak dan remaja. Bullying verbal adalah bentuk perundungan dengan menggunakan kata-kata, pernyataan, sebutan, atau panggilan yang menghina secara lisan.

Tindakan ini bertujuan untuk meremehkan, merendahkan, mengintimidasi, dan menyakiti korbannya. Verbal bullying dapat memberi dampak yang serius pada psikis korbannya, bahkan untuk jangka waktu yang panjang.


Contoh bullying verbal

Pelaku bullying verbal sering kali menjadikan anak-anak yang tampak lemah atau berbeda sebagai sasarannya. 

Berbeda dengan bullying secara fisik yang menggunakan pukulan, tendangan, atau tamparan, jenis bullying ini menggunakan kata-kata untuk menyakiti korbannya.

Beberapa contoh bullying verbal pada anak yang harus diwaspadai, di antaranya:

  • Menghina
  • Memaki
  • Menjuluki
  • Meneriaki
  • Mempermalukan di depan umum
  • Menebar gosip
  • Menuduh
  • Memfitnah.

Disadari atau tidak, memberi julukan “Si Gendut”, “Si Monyong”, dan semacamnya yang bertujuan menghina termasuk contoh bullying secara verbal.

Bullying verbal dengan kata-kata yang menyakitkan dapat menghancurkan korbannya karena bisa meninggalkan luka emosional yang dalam, bahkan sama menghancurkannya dengan intimidasi fisik.

Dampak bullying verbal

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapat perundungan memiliki dampak jangka panjang terhadap masalah fisik, sosial, emosional, dan akademisnya. 

Sejumlah dampak bullying verbal yang dapat terjadi pada anak, yaitu:

1. Depresi

Salah satu dampak verbal bullying adalah bisa menyebabkan anak mengalami depresi. Masalah ini dipicu oleh rasa tertekan akibat kata-kata atau sebutan menghina yang dilontarkan oleh pelaku perundungan. 

Anak yang depresi dapat terlihat murung, sedih, dan putus asa. Selain itu, mereka juga menjadi lebih mudah marah dan kehilangan minat terhadap apa yang disukainya.

2. Merasa gelisah

Anak yang mendapat bullying secara verbal juga dapat dirundung oleh kegelisahan. Mereka merasa tidak aman dan takut, terutama ketika hendak bertemu dengan pelaku bullying. Tak jarang, hal ini menyebabkan anak sering menangis tiba-tiba.

3. Pola tidur berubah

Bullying verbal juga bisa menyebabkan pola tidur anak berubah. Mereka menjadi sulit tidur atau bahkan tidur berlebihan sehingga tidak bisa beraktivitas dengan baik. 

Jika Anda menyadari perubahan ini, segera ambil tindakan yang tepat untuk mengatasinya.

4. Merasakan keluhan fisik

Dampak bullying verbal juga dapat membuat anak merasakan keluhan fisik, seperti jantung berdebar-debar, sakit perut, sakit kepala, atau mual yang tidak didasari kondisi medis apa pun. 

Kondisi yang umumnya disebabkan oleh stres ini disebut dengan gangguan psikosomatis.

Hal ini juga telah dibuktikan oleh sebuah penelitian tahun 2015 yang menyatakan bahwa verbal bullying sangat berpengaruh pada kesehatan anak.

5. Nafsu makan berubah

Bukan hanya pola tidur, anak yang menjadi korban bullying juga dapat mengalami perubahan nafsu makan. 

Mereka bisa jadi lebih jarang makan atau justru makan berlebihan. Perubahan ini juga dapat mempengaruhi berat badan anak.

Sumber: https://www.sehatq.com/artikel/mengenal-bullying-verbal-pada-anak-yang-berbahaya-bagi-mentalnya

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer